16 November 2011

Membedah Legenda Asal Usul Rawon Setan


Pernah dengan Rawon Setan? Jelas pernah dong, karena rawon – ini masakan khas Jawa Timur, yang berbentuk sup dengan dominasi warna hitam, karena bumbu kluwek-nya – yang diembel-embeli kata “setan” di belakangnya ini sudah membuka cabang di seantero negeri. Saya sendiri, karena penasarannya, sudah menyempatkan diri mencicipi masakan ini di resto Rawon Setan Mbak Endang, yang ada di Jalan Alternatif Cibubur, Jakarta Timur, beberapa bulan silam.

Nah, kenapa dinamakan Rawon Setan, itu yang perlu ditelusuri sejarahnya, hehehe... Dan Alhamdulillah ya, dapat juga satu cerita (yang tidak perlu diperdebatkan lagi kebenarannya) tentang asal usul Rawon Setan, dari portal wisata dan kuliner JalanAsyik.
Benini ceritanya :


Konon, puluhan tahun silam, waktu zaman revolusi, di tengah kota Surabaya ada warung rawon yg buka di depan gedung Nirom (Nederlands Indische Radio Omroep Maatschappij). sehingga dengan gampang warung ini dikenal sebagai warung rawon nirom. Bisnis sop keluwek ini bertahan terus sampai sekarang. Posisinya sudah nggak lagi di depan gedung Nirom (lha nirom'e wes buyar je). Disono sekarang ada hotel JW Marriott. Warung rawon tadi juga sudah nggak lagi dikenal sebagai rawon nirom, sekarang orang nyebutnya rawon setan.

kenapa disebut rawon setan? karena warung ini baru buka sekitar jam 23.00-an (bareng setan-setan gentayangan), dan biasanya sudah mulai tutup sekitar jam 02.00-an. Walaupun rawon setan ini cuman warung tenda di pinggir jalan, tapi konsumennya banyak yang bermobil mewah, plat nomernya juga nggak selalu L (Surabaya). Dan hebatnya, mereka yang biasa dilayani secara mewah di restoran mahal bersedia berdiri antri lama di pinggir jalan demi rawon setan ini. Benar-bener setan dah!

Jadi sehebat apa sebenernya rawon setan ini? Banyak orang yang tergila-gila pada rawon ini karena reputasinya. Biasanya. kalau teman-temannya pada bilang enak, bisa disimpulkan rawon ini = betulan enak. Sehingga kemudian otaknya juga akan terkondisikan untuk bilang rawon ini enak. Kemudian dia akan rekomendasikan ke teman lainnya sebagai rawon enak, begitu seterusnya, menjalar dari mulut ke mulut. Bahkan, “keenakan” dan reputasi Rawon Setan ini terdengar orang-orang beken, seperti Krisdayanti sampai Presiden SBY, yang konon juga suka rawon ini.

Soal rasa, bumbunya memang meresap ke dalam daging (dan memang dagingnya empuk), tapi teksturnya masih terasa, juga potongannya besar-besar. Sayang, kualitas daging ini mesti dikompromikan dengan gajih (lemak) yang generous. Selain itu kuahnya juga cenderung asin, tapi agak light, kurang rich. Perlu ditambah side-dish telor asin atau paru goreng dan krupuk udang biar lebih sip. Penilaian secara subyektif, rawon setan nggak lebih nikmat kalau diadu langsung dengan rawon nguling, misalnya.

Sekarang, rawon setan (yang jadi legenda di Surabaya ini) sudah nggak dijual di warung tenda lagi. Sejak beberapa tahun belakangan ini sudah dijual di depot/rumah makan (kelihatannya kayak ruko). Lokasinya tetap di jalan Embong Malang, persis depannya Hotel JW Marriott. Pelanggannya masih tetep banyak yang bermobil mewah. Terus kalau mau ngincipi, konsumen nggak harus nunggu tengah malam lagi, karena sekarang rawon setan buka nonstop 24 jam. Mungkin karena setan-setan jaman sekarang juga gentayangan 24 jam nonstop kali ya?