14 February 2008

Perang Iklan, koq jadi merembet ke milist ?

Ini kejadian terbaru di milist alumni SMA Negeri Tumpang sepanjang hari ini, tanggal 14 Pebruari 2008. Hari valentine bukannya nulis yang bernuansa pink atawa kasih sayang, pagi-pagi Taufiq malah mengirim gambar perang iklan – dalam bentuk billboard outdoor – antar operator telepon seluler (tepatnya sih : antara XL dan SiMPATI). Lucu memang kalimat dalam foto tersebut, dan Taufiq cuma mengomentari singkat, “Ada-ada saja.... heheheheh.”

Entah merasa tergerak untuk “membela” tempat kerja, atau sekedar klarifikasi, Happy Hendra – yang memang kerja di XL Kediri – menimpali melalui email juga, yang berbunyi, “Biasa kakak tertua kan gak mau ngalah ama adiknya. Padahal adiknya sekarang sudah menjangkau ke mana-mana. Soal perhitungan tarif, nggak usah ribet ngitung. Tinggal dipakai dan terbukti termurah.” Sanggahan khas cara corporate sebuah perusahaan seluler.

Bukannya selesai, Abdul Halim – yang saat ini kerja di Batam – malah sedikit memprovokasi, “Di bilang lucu kok malah ngiklanin di sini ! Piye to ? Hahaha…” Tak lama kemudian Ari (yang ini bekerja di sebuah hotel kelas atas di Jakarta) menambahkan, “Merasa tersentil ketok'e Lim, hiahaihiahaihaihia...”

Untungnya, Taufiq yang melempar bola panas di pagi hari mencoba untuk menetralir, dengan memberi argument agak panjang, “Lho... kakak tertua bukannya Mentari ? Hmmm... untuk di kelasnya (XL Bebas, Mentari, Simpati/Pede) memang harus diakui kalo XL Bebas masih yang termurah untuk antar operator. Walau sebenarnya selisihnya juga nggak signifikan amat. Karena rata-rata orang bicara di HP paling lama juga 3 menit, mungkin kalau diperkecil lagi dibawah 2 menit.”

Sedang mengenai plus minus CDMA dari operator yang ada, “Untuk telpon sesama operator, yang bicara diatas 30 menit kebanyakan kayaknya orang yang lagi pacaran, atau yang lagi di perantauan. jadi alternatifnya, ya pake CDMA. Sedang CDMA yang lagi murah sekarang adalah Esia, Starone, dan Fren (tarif lama). Untuk lokal Flexi masih jadi primadona. Tapi starone juga masih sangat menarik dengan tarif promonya Rp. 25/menit atau Rp. 25 ribu sebulan, sepuasnya. Esia juga termasuk yang paling rajin nyerang kompetitornya, dan memang gebrakan Esia ini membuat Telkom sempat panik. Untuk Fren sebenarnya jadi ndak menarik lagi dengan kebijakan tarif barunya untuk panggilan SLJJ, yang Rp. 550/menit flat,” urai Taufiq.

Di akhir tulisannya Taufiq member kesimpulan, “Makanya orang jaman skarang punya sim card gak cuma 1, bisa 2, 3, 4, atau sesuai siapa yang mau di telpon. Aku sendiri untuk CDMA punya Flexi, Fren, Starone, walau handsetnya cuma punya 2 hehehe…”

Tadinya, aku kira akan muncul tulisan-tulisan lainnya yang meng-counter penjelasan Taufiq. Ternyata aku tunggu sampai jam 7 malam ini, tak satupun email yang muncul lagi. Ya udah, jadilah tulisan ini.