07 August 2011

Mantabnya Kedai Kopi Bersuasana Pecinan Jadoel


Jika Anda tinggal di Bintaro-Bekasi-Bogor-Depok dan lainnya, sudah pasti anda berlomba lomba berangkat sepagi mungkin untuk menghindari kemacetan parah di Jakarta. Alhasil sampai di kantor pun, kepagian!!! Bahkan lebih pagi dari satpam yang bertugas membuka pintu kantor. Kalau sudah gini tak salah nongkrong deh di kedai terdekat. Biasanya pasti kedai kopi. Sambil mengisi energi, karena kopi biasanya dapat memberikan efek kebugaran hingga beberapa jam mendatang.

Kedai Kopi Doeloe sejak 1959 di kawasan Kota Tua, tepatnya di Jl. Roa Malaka Jakarta Barat ini tampaknya bisa menjadi tempat menunggu paling pas. Oya, tulisan sejak 1959 sendiri hanyalah sebuah simbol. Meski kedai ini baru buka di tahun 2010, namun sejatinya kedai ini telah ada di Medan sejak tahun 1959 dengan nama Kopi Deli. Namun kedai ini sempat tutup beberapa tahun dan akhirnya terpikir untuk membuka lagi, namun di Jakarta. Jadilah tulisan tersebut di pasang kembali, 1959. Karena kedai ini memang hanya menjual kopi Medan dengan teknik seduh tradisional seperti digunakan di Kedai Kopi Deli dahulu.

Disini, suasananya, pecinan jadoel, selaras dengan lagu-lagu oriental yang diputar pelan. Tenang sekali. Lalu sembulan aroma kopi Medan lamat lamat akan memenuhi rongga hidung, harum sekali. Tajam dengan sedikit aroma asam yang rapuh.

Kopi Tunggal, Kopi Luwak dan Kopi Brownies

Pecinta kopi pasti tak sabar untuk merasakan nikmatnya kopi tunggal. Kopi yang diyakini dapat menambah vitalitas kaum pria. Tak menyia-yiakan kesempatan, saya pun memesan kopi yang juga biasa di sebut "kopi lanang" ini. Rasanya? Halus tidak terlalu kuat namun memiliki rasa kafein yang cukup tajam. Mantap! Dan karena kopi yang ada disini semua dalam bentuk biji kopi dan baru digiling ketika ada pembeli, maka rasa kopinya sangat segar. Ini terasa dari berfungsinya seluruh indera perasa di lidah saya yang mampu menangkap rasa manis sekaligus pahit dan asam pada secangkir kopi murni tanpa gula ini.

Di sebut kopi tunggal atau kopi lanang, karena secara fisik, kopi ini memang berbeda dengan kopi lain yang terbelah dua. Biji kopi ini berbentuk bulat dan tunggal. Biasanya didapat dari jenis kopi Robusta. Paling cocok diminum di udara dingin, seperti ketika tahun lalu saya ke Banyuwangi, di daerah perkebunan kopinya (milik Pak Iwan), saya mencicip kopi tunggal dan sangat enak di badan. Jadi hangat.

Sebagai tambahan, kopi lanang ini paling enak diseduh secara tubruk. Tak usah coba-coba diseduh bersama dengan susu atau cream, karena usaha anda justru akan merusak rasa dan aroma kopi tunggal yang tajam. Cukup diseduh saja dengan air panas, tunggu 4 menit dan aduk lalu nikmati tanpa gula atau sedikit saja gula jika tidak tahan pahit.

Selain kopi tunggal disini juga ada kopi luwak. Tapi saya tidak mencoba karena kopi luwak sudah bisa dipastikan rasanya sangat enak, dengan aroma lembut dan manis alami yang benar benar manis tanpa bantuan gula. Saya memesan kopi lain yang bernama kopi brownies.

Brownies manis yang ditutup dengan ice cream vanilla dan digarnis mini cup cakes kemudian diguyur kopi tubruk yang sudah dipisahkan dari ampasnya. Ceeessss … manis yang berpadu dengan pahit dan panas yang menyatu dengan dingin. Rasanya nikmat tiada tara. Buat yang tidak ingin kopinya menjadi terlalu kental saya menyarankan untuk tidak mengaduk ke empat komponen dalam cangkir tersebut.

Makanlah satu persatu dengan sendok dan nikmati vanila kopi dan brownies kopi yang lembut. Sungguh acara ngopi yang luar biasa. Harga kopi tunggal Rp 18.000 per gelas dan kopi brownies Rp 15.000 per gelas.

Makanan Unggulan

Harga kopi mi doeloe Rp 18.000. Hidangan khas Tio Ciu ini dijamin akan membuat anda kangen untuk datang dan datang lagi. Pasalnya anda cari dimana pun mi ini, nggak akan ada yang menjual dengan rasa yang sama. Karena kekuatan masakan ini dimana pun diseluruh dunia, adalah terletak pada racikan mi-nya yang home made.

Mi yang terbuat dari tepung beras ini sudah langsung bercampur dengan aneka rempah dan bumbu dapur. Jadi ketika memasak, benar-benar tak perlu diberi bumbu apa-apa lagi. Hanya tinggal sayur yang ditumis dengan minyak bawang, kemudian mi dimasukkan dan langsung disajikan hangat. Rasaya? Gurih aroma minyak bawang dan sayur sayuran yang ditumis seperti aroma wortel, daun bawang dan taoge yang lembut.

Selat Popiah Rp 12.000 per 5 biji. Jajanan atau makanan kecil khas Medan yang cukup susah dijumpai di Jakarta akan kita jumpai disini. Hm,… luar biasa. Rasanya enak sekali. Adonan kue yang dibentuk mangkuk kemudian diisi dengan aneka tumisan sayur segar. Mantab! Untuk bisa mencoba makanan ini sendiri, anda perlu bersabar sebentar, karena mesti masuk dalam kategori makanan ringan, tapi selat popiah ini benar benar baru akan diracik ketika anda memesan. So dijamin selat popiah yang ada di meja anda dalam keadaan panas dan dengan sayur yang segar.

Lumpia dan Risoles

Selain selat popiah yang baru dibuat ketika anda memesan, lumpia dan risoles juga benar benar baru dibuat isinya dan kemudian digulung dengan kulitnya lalu digoreng begitu anda memesan. Rasanya? Tentu lumpia dan risoles hangat rasanya sangat nikmat. Dengan garing kriuk kulitnya yang home made, kemudian berbaur jadi satu dengan isiannya.

Selain ketiga makanan diatas, disini juga ada siomai ayam udang yang benar benar seharusnya sebuah siomai, yaitu berisi daging bukan tepung. Kres-nya dapet banget. Apalagi ketika dicocol dengan saus home made-nya. Nyaaam. Saya juga coba pisang lumpia dan roti bakarnya. Roti bakar keju tape-nya, bikin merem melek. Tapenya juga home made loh.

Oya selain kopi, disini anda juga dapat menikmati aroma harum dan nikmatnya teh cina yang di seduh dengan teknik kung fu cha. Dimana, kedai ini memang bekerja sama dengan kedai teh Siang Ming yang sudah terkenal akan kung fu cha-nya. Selamat menikmati…
***
sumber: travel.kompas.com