Tampilkan postingan dengan label Suporter. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Suporter. Tampilkan semua postingan

01 April 2010

Betapa Mencemaskan Kerusuhan Suporter Sepakbola Kita

Tiada hari tanpa berita “kerusuhan” di kancah sepakbola Indonesia. Begitulah yang aku perhatikan – baik dari media cetak, elektronik maupun internet – ketika mencoba mengikuti perkembangan olahraga rakyat ini. Kerusuhan, yang kalau dijabarkan lebih jauh lagi bisa berbentuk premanisme dan anarkis, yang terjadi di seluruh elemen persepakbolaan kita (pengurus, pemain, wasit, sampai suporter).

Tak perlu berteori panjang lebar untuk mencari simpul penyebabnya. Yang pasti, berbanding lurus dengan prestasi sepakbola nasional yang semakin terjun bebas ke titik paling bawah, pola pembinaan – dan organisasi – sepakbola Indonesia sudah keluar dari jalur kebenaran, alias salah!

Jangankan mengurus sistem pembinaan usia dini yang belum berjalan mulus, organisasi PSSI – sebagai induk organisasi sepakbola nasional – juga tidak konsisten dalam menjalankan roda organisasinya. Mulai dari sistem kompetisi yang selalu berubah, keputusan hukuman yang bisa diatur, tudingan wasit yang bisa “dibeli” sampai pengurusnya yang banyak tersangkut kasus pidana.

Yang semakin mengerikan, adalah perilaku suporter yang makin beringas dan tak terkendali. Membela klub kesayangannya dengan membabi buta – dan memaki serta intimidasi tim atau supporter lawan – adalah pemandangan “wajib” di beberapa stadion, baik untuk level Liga Indonesia maupun divisi yang lebih rendah.

Sebagai gambaran, berikut “Ulah” suporter sepakbola Indonesia di awal tahun 2010 ini, yang disarikan dari harian Kompas :

22 Januari 2010
Pihak terlibat: Suporter Persebaya dan pedagang kaki lima.
Perilaku: Ratusan supporter Persebaya menjarah pedagang kaki lima di sekitar Stasiun Wates dan Alun-alun Wates, Kulonprogo, Yogyakarta.

22 Januari 2010
Pihak terlibat: Suporter Persebaya dan wartawan foto Kantor Berita Antara.
Perilaku: Penganiayaan di Stasiun Purwosari, Solo, Jawa Tengah.
Akibat: Kepala Hasan Sakri Ghozali, seorang wartawan foto, bocor.

24 Januari 2010
Pihak terlibat: Massa dan suporter Persebaya.
Perilaku: Massa melempari kereta api Pasundan yang membawa supporter Persebaya Surabaya dari Bandung tujuan Surabaya di Stasiun Purwosari, Solo, Jawa Tengah.
Sanksi: Suporter Persebaya dilarang menonton laga tandang Persebaya selama 4 tahun, menjatuhkan denda Rp. 250 juta kepada Persebaya.

9 Februari 2010
Pertandingan: Persik Kediri dan Persib Bandung di Kediri, Jawa Timur.
Pihak terlibat: Suporter Persik.
Perilaku: Perkelahian saat pertandingan berlangsung.
Akibat: Seorang pendukung Persik tewas dan empat orang lainnya luka serius.
Sanksi: Persik bertanding tanpa penonton/suporter.

12 Februari 2010
Pertandingan: PSS Sleman dan PSIM Yogyakarta di Stadion Mandala Krida, Yogyakarta.
Pihak terlibat: Suporter PSS Sleman dan PSIM Yogyakarta.
Perilaku: Saling lempar botol dan batu serta saling ejek antar suporter.
Akibat: Lebih dari 60 penonton, sebagian besar supporter PSIM, terluka karena lontaran gas air mata, terjatuh, dan kena pukulan polisi. Seorang watawan juga menjadi korban pemukulan aparat.

14 Februari 2010
Pertandingan: Persebaya Surabaya dan Persib Bandung.
Pihak terlibat: Suporter Persebaya.
Perilaku: Melempari gerbang dan loket stadion serta menyanyikan lagu-lagu intimidatif.

3 Maret 2010
Pihak terlibat: Suporter Persitara
Perilaku: Melempar gundu ke mobil yang ditumpangi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Jalan Tol Wiyoto Wiyono, Jakarta.
Akibat: Polisi memeriksa 300 suporter Persitara dan menemukan senjata tajam, seperti celurit, botol-botol kosong bekas miniman keras dan minuman mineral berisi gundu, tongkat pemukul bisbol, tongkat kayu yang ujungnya berbentuk seperti palu, serta sebilah golok.

16 Maret 2010
Pertandingan: Persija dan Persipura.
Pihak terlibat: Suporter Persija.
Perilaku: Membawa 10 senjata tajam, seperti celurit, golok, pedang panjang yang biasa disebut katana, 16 gir bertali, dan ganja dibungkus rokok.
Akibat: 50 suporter dari Jakarta Timur, Bekasi, dan Depok diperiksa polisi, 37 orang diantaranya menjadi tersangka.
***
sumber foto: bola.kompas.com







27 April 2009

Suporter juga Harus Fair Play

“Arema bosok..!” begitu salah satu sms yang masuk ke hp-ku semalam, sekitar pukul 20.50 wib, beberapa saat setelah pertandingan Arema Malang melawan Persija Jakarta – yang disiarkan langsung oleh ANTV – berakhir. Yup, aku tersenyum getir membaca sms dari teman di Palangkaraya (Kalimantan Tengah) tersebut. Sebab, aku paham dengan karakteristik arek-arek Malang, dimanapun mereka berada, saat melapiaskan uneg-unegnya.

Kalau mereka menghujat Arema dengan sebutan “busuk” karena hanya mampu bermain imbang 2-2 dengan Persija, itu bukan berarti mereka benci dan mensyukuri Arema nggak bisa menang. Lebih dari itu, umpatan itu justeru bermakna rasa kesal dan geregetan pada tim kesayangannya karena belum bisa menunjukkan performa yang menjanjikan. Sebuah ciri khas dari para Aremania – sebutan pecinta dan suporter klub sepakbola Arema Malang – yang ceplas-ceplos tanpa bermaksud menyinggung orang lain.

Nah, yang menjadi masalah adalah salah satu sms dari teman di Sidoarjo – aku terima pukul 21.16 wib – yang tertulis: “Jancok, Arema niame kyok ngonceb, Sam. Peltih wajib ganti, arema kudu ukut pemain bringas, ati singo. Lek klah maneh yo obong ae stadione, menisan wis!”. (Terjemahannya: Jancuk [umpatan khas Malang], Arema mainnya seperti banci, Mas. Pelatih wajib diganti, Arema harus beli pemain beringas, berhati singa. Kalau kalah lagi ya bakar saja stadionnya. Sekalian sudah!

Waduh.., meski kalimat itu ditujukan sebagai (bagian) dari kecintaan pada Arema, tentu aromanya sudah berbeda. Unsur provokasi dan mengabaikan azas sportivitas nampak kental. Artinya begini, fanatik pada tim kesayangan sah-sah saja, membela tim idola sampai titik darah penghabisan juga hal yang bagus, tetapi unsur sportif perlu juga dijunjung tinggi. Bukan membabi buta. Sebab, kalah dan menang adalah hal wajar dalam sebuah pertandingan. Tim sekelas Manchester United ataupun Barcelona pun masih bisa “terpeleset” kalah dengan tim ayam sayur.

Kesimpulannya, disaat sepakbola nasional sudah babak belur – dengan sering melanggar aturan dan fair play yang selalu didengungkan FIFA – mestinya suporter sepakbola (dalam hal ini aku mengambil contoh Aremania, sebuah komunitas suporter yang aku ikuti) tidak perlu ikut-ikutan ngawur seperti PSSI. Menjadi suporter fanatik dan santun, adalah lebih elegan daripada suporter yang atraktif tapi anarkis. Sebab, suporter pun juga harus “bermain” fair play.