Tampilkan postingan dengan label Wisata - Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wisata - Budaya. Tampilkan semua postingan

28 Oktober 2017

Lembah Tumpang, Tempat Liburan ala Keluarga Kerajaan Tempo Doeloe

Diakui atau tidak, perkembangan dunia pariwisata – di berbagai daerah yang ada – di negara kita begitu pesat. Obyek yang punya potensi untuk mendatangkan wisatawan lokal dan mancanegara, mulai ditata sedemikian rupa, sehingga bisa mengangkat potensi ekonomi daerah maupun masyarakat sekitarnya.

Tak terkecuali di Kabupaten Malang, tepatnya Kecamatan Tumpang – 17 kilometer dari pusat kota Malang – yang mulai menggeliat mengembangkan potensi wisatanya. Seperti ditulis situs Traveling Yuk, sebuah wisata air yang berkonsep alam pedesaan jaman kerajaan Hindu sudah mulai dibuka, dan diberi nama Lembah Tumpang. Seperti apa? Berikut tulisan selangkapnya:


20 Januari 2015

Ada Museum Zoologi di Kebun Raya Bogor

Kebun Raya Bogor adalah tempat wisata di Bogor yang telah dikenal banyak wisatawan, baik domestik maupun mancanegara. Lokasi Kebun Raya Bogor terletak di jantung kota Bogor, yakni Jln. Ir. H. Juanda No. 13 Bogor.

Salah satu tempat wisata favorit Bogor ini memiliki koleksi tanaman yang paling memikat. Ada dapat menjumpai aneka jenis bunga, spesimen anggrek, varian buah-buahan langka, hingga pohon-pohon tua yang jarang dijumpai di tempat lain, misalnya pohon leci, randu, jati, dan lain sebagainya.

Anda dapat menikmati wisata akhir pekan Anda di Bogor dengan mengunjungi tempat ini. Kebun Raya Bogor terbuka untuk umum, dibuka dari pukul 8 pagi hingga pukul 5 sore. Kecuali untuk perpustakaan, kantor dan pusat informasi di Kebun Raya Bogor yang hanya buka sampai maksimal pukul 3 sore. Khusus di hari Jum’at, Kebun Raya Bogor terbuka sampai pukul 4 sore saja.

10 Desember 2014

Sekilas Mengenal Sejarah Topeng Malang

Panji Topeng Malang merupakan pementasan wayang Gedog yang dalam pertunjukannya mempergunakan topeng. Dalam perkembangannya di Kedungmoro dan Polowijen, Kecamatan Blimbing, Malang yang dikenal dengan sebutan Topeng Jabung.

Dalam pementasannya mengetengahkan cerita-cerita Panji dengan tokoh-tokohnya seperti : Panji Inu Kertapati, Klana Swandana, Dewi Ragil Kuning, Raden Gunungsari, dll. Para penari mengenakan topeng dan menari sesuai dengan karakter tokoh yang dimainkan. Dalam pementasan dipergunakan tirai yang terbelah tengah sebagai pintu keluar/masuk para penarinya.

Maestro Topeng Malang, yang tetap melestarikannya adalah Mbah Karimun bersama istrinya Siti Maryam, dengan tetap melatih anak-anak kecil di lingkungannya untuk belajar membuat Topeng Malang dan tari Topeng Malangan. Kini generasi penerus topeng malang di kedungmonggo diteruskan oleh Mas Handoyo.

18 Februari 2014

Tradisi Seren Taun Guru Bumi, di Kampung Sindangbarang (Bogor)

Pada akhir pekan, tamu dari Kota Jakarta dan sekitarnya mulai menempati cottage-cottage di Kampung Budaya Sindang Barang. Keruwetan jalur dari Kota Bogor ke Desa Pasir Eurih, Kecamatan Tamansari tempat berlokasinya kampung ini akhirnya diredam keheningan jalan sempit beraspal yang rapih, tepat di tepian hamparan sawah membentang. 

Sesekali suasana dikejutkan oleh adanya wisatawan asing yang berjalan menelaah perkampungan. Pada akhirnya, beberapa puluh meter sebelum masuk ke area kampung budaya ini, lapangan parkir terbuka di pagari hamparan sawah mengakomodir pengunjung yang singgah dengan kendaraan pribadi. Suasana kampung bak kilat memutar balikkan ketidak teraturan peradaban modern yang belum sempurna menjadi keasrian yang dinanti.


05 Oktober 2013

Menelusuri Sejarah Candi Singosari di Malang

Tidak banyak sisa-sisa Kerajaan Singosari yang pernah berkuasa abad 13 di Jawa Timur. Hanya ada sebuah candi yang belum selesai dibangun dan dua patung raksasa yang berdiri menjaga di depan istana sebagai jejak yang tersisa dari salah satu kerajaan besar di Nusantara ini.

Candi Singosari disebut masyarakat setempat sebagai Candi Cungkup, awalnya sempat dinamakan juga candi Renggo, Candi Menara, dan Candi Cella. Untuk sebutan yang terakhir karena candi ini memiliki celah sebanyak 4 buah di bagian tubuh candi. Hingga kini nama yang lebih dikenal adalah Candi Singosari karena letaknya di Singosari.

12 Juni 2013

Candi Kidal, Candi Paling Tua di Jawa Timur


Candi Kidal (tinggi 12,5 m, luas: 35 m2) terletak di desa Rejokidal sekitar 20 km sebelah timur kota Malang - Jawa Timur. Candi Kidal dibangun pada 1248 M, bertepatan dengan berakhirnya upacara pemakaman Cradha untuk Raja Anusanatha (Anusapati), pengganti Raja Rajasa Sang Amurwabhumi. Anusapati diarcakan sebagai Siwa dan ditempatkan di ruang utama candi. Namun sekarang ini arca tersebut tidak berada pada tempatnya lagi.

Dari daftar buku pengunjung yang ada nampak bahwa Candi Kidal tidaklah sepopuler temannya Candi Singosari, Jago atau Jawi. Hal ini karena Candi Kidal terletak jauh di pedesaan, tidak banyak diulas oleh pakar sejarah dan jarang ditulis pada buku-buku panduan pariwisata. Lokasi candi ini sendiri berada dipinggir jalan utama desa, namun karena terletak menjorok agak ke dalam sehingga sulit dilihat sebelum benar-benar tepat berada di depan gerbang masuk kawasan candi.

19 Desember 2011

Cipanas Presidential Palace, so magnificent and artistic


The palace was built in 1740 by Van Heuts above ground area of ​​25 hectares. Cipanas Presidential Palace, better known as Cipanas Palace is located at the foot of Mount Gede, 103 km from Jakarta to Bandung direction, or 17 miles from the city of Cianjur.

Although not used, the Palace Cipanas remained well preserved. Scenery around the palace is overgrown vegetables, fruits and ornamental plants give a sense of beautiful. Magnificent palace built in 1740 can be visited by the public with special permission from the Secretary of State.

16 Desember 2011

Enjoying the Sundanese Culture in Bogor Tourism Village


In addition to the various objects along the flow Ciliwung, Bogor also have an alternative tourist attractions relatively "new". The new destination is believed to be capable of knocking on the hearts and add insight to be able to live closer to nature.

Exciting place to offer this time is Sindangbarang Cultural Village (Kampung Sindang Barang = KBS) and the Tourism Village Industries Cikaret (Kampung Wisata Industri Cikaret = KWC). Incidentally, the location of the two are not far from each other, there is a single route to the south of the city of Bogor. About 15 kilometers from the "Rain City", right at the foot of Mount Salak.

05 Desember 2011

Panataran Temple, History of Tourism in East Java


The temple is situated in the village Panataran, Nglegok, Blitar district, East Java, Indonesia. Its location is situated at the foot of Mount Kelud, making the air cool Panataran Temple area. The temple complex enshrinement Panataran is the largest and most well maintained in the province of East Java, Indonesia.

The temple is a temple Panataran rich with various shades of reliefs, statues, and the structure of Hindu-style buildings. The existence of sculptures Kala (huge grin), statues Ganesya (the god of science in Hindu mythology), statues Dwarapala (giant statues guard the gate), and also relief of Ramayana is an indisputable proof that the Temple is a Hindu temple Panataran.

04 Desember 2011

Staying at the Hotel with Old Home Concept


You want to thrill to stay at the hotel with the concept of an old hotel skipper former home of batik in Solo, Central Java? Stay in "Hotel Roemahkoe Heritage" on the Road Laweyan, Solo.

This hotel is the most appropriate place to commemorate the glory days of old. Because, this hotel was formerly the home skipper batik in Solo.

If you go to the city of Solo, one of the activities that you will definitely want to do is shop batik. Batik is a wide range of styles and modes also exist along the road Laweyan.

24 Agustus 2011

Mengenal Candi Jago, Makam Maharaja Wisynuwardhana


Situs Candi Jago terletak di Desa Jago, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang. Candi ini dahulunya bernama Jayaghu. Candi ini menurut Negarakertagama diketahui sebagai salah satu candi pendharmaan bagi Maharaja Wisnuwardhana. Hayam Wuruk disebutkan pernah melakukan kunjungan ziarah ke makam leluhurnya yakni Wisynuwardhana yang dicandikan di Jayaghu atau Jago.

Sekalipun Candi jago diketahui sebagai makam Maharaja Wisynuwardhana, namun jika dilihat dari bentuk arsitektur dan ragam hiasnya maka bangunan itu berasal dari zaman majapahit akhir. Pada tahun 1272 Saka atau 1350 Masehi, misalnya, candi itu pernah diperbaiki oleh Adityawarman. Dan sesudah itu, candi itu tampaknya mengalami beberapa kali pemugaran pada kurun akhir majapahit yakni pada pertengahan abad ke 15.

14 Juli 2011

Di Monumen Nasional, Berwisata Pendidikan dan Sejarah


Hampir setiap hari, ruang museum nasional dipenuhi pengunjung yang sebagian besar adalah anak-anak sekolah, juga pengunjung lokal maupun asing.

Selain menjadi pusat bisnis, tempat ini juga merupakan kota yang banyak menyimpan cerita sejarah sejak Indonesia dijajah Belanda hingga perebutan kemerdekaan. Salah satu pusat wisata pendidikan dan sejarah yang bisa dikunjungi adalah tugu dan museum yang ada di Monumen Nasional atau disebut Monas.

Pengunjung bisa memperoleh banyak informasi tentang sejarah dan pembangunan Monas dengan membayar Rp 2.500 untuk orang dewasa dan Rp 1.000 untuk anak-anak atau pelajar. Sementara itu, pengunjung yang ingin naik ke pelataran puncak dan api kemerdekaan mesti membeli tiket lagi Rp 7.500.

Monas didirikan pada 17 Agustus 1961, pada masa pemerintahan Presiden Indonesia pertama, Soekarno. Tugu ini dibangun dengan harapan masyarakat Indonesia akan selalu mengenang dan melestarikan perjuangan bangsa Indonesia pada masa revolusi kemerdekaan 1945, serta terus membangkitkan inspirasi dan semangat patriotisme generasi saat ini dan mendatang.

Dalam tugu Monas, terdapat beberapa tempat yang bisa dikunjungi. Ada Museum Sejarah Nasional, ruang kemerdekaan, pelataran puncak dan api kemerdekaan, serta relief sejarah Indonesia, yang terdapat pada bagian luar tugu. Museum Sejarah Nasional Indonesia terdapat di lantai dasar monumen.

Ruangannya sangat luas, berbentuk kotak dengan luas 80 m x 80 m. Di sini, pengunjung bisa melihat 51 diorama yang menampilkan sejarah Indonesia; mulai masa prasejarah, masa kemaharajaan kuno seperti Sriwijaya dan Majapahit, masa penjajahan bangsa Eropa, disusul masa prakemerdekaan melawan VOC dan pemerintah Hindia Belanda.

Diorama berlangsung terus hingga masa pergerakan nasional Indonesia awal abad ke-20, pendudukan Jepang, perang kemerdekaan dan masa revolusi, hingga masa Orde Baru di masa pemerintahan Soeharto.

Pengunjung juga dapat melihat koleksi foto hitam putih, yang dipajang pada beberapa tiang dalam ruang. Tempat bersejarah lain adalah ruang kemerdekaan, yang terdapat di bagian dalam cawan monumen.

Ruangan ini menyimpan simbol kenegaraan dan kemerdekaan Indonesia, di antaranya naskah asli Proklamasi 17 Agustus 1945 yang disimpan dalam kotak kaca di dalam gerbang berlapis emas, lambang negara Indonesia, peta kepulauan Negara Kesatuan Republik Indonesia berlapis emas, bendera merah putih, dan dinding yang bertulis naskah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia. Ruang Kemerdekaan ini digunakan sebagai ruang untuk mengheningkan cipta, mengenang perjuangan para pahlawan bangsa.
***
sumber: sinarharapan.co.id

02 Februari 2010

Kebyar Duduk: One of The Best Known Balinese Dance

Kebyar Duduk is balinese solo exhibition dance that is performed to the accompaniment of a gamelan ensemble. Developed and popularized in the 1920s by a famous dancer-choreographer named I Nyoman Mario. A popular form of the dance is the Kebyar Duduk, which is performed while the dancer is sitting cross-legged.

Any limitations brought about by the lack of mobility in the lower limbs is more than compensated for by subtle upper-body movements and highly nuanced facial expressions.

10 Maret 2009

Istana Merdeka, Alternatif Wisata Kota Jakarta

Minggu kemarin, aku dapat kiriman artikel dari Drs. Winarto – kakak kelasku waktu di SMA – tentang sejarah dan seluk beluk Istana Negara yang ada di Jalan Merdeka Selatan - Jakarta Pusat, yang juga biasa disebut dengan Istana Merdeka. Menarik, karena Mas Win (begitu biasa aku memanggil) yang kini menjadi Kepala Sekretariat Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres), dengan cermat memaparkan sejarah istana kepresidenan ini sejak jaman Belanda sampai saat ini, sepanjang 18 halaman.

Dan memang tidaklah mungkin, kalau tulisan tersebut aku masukkan blog ini (bisa-bisa menjadi 20 bagian tulisan nantinya, hehehe...). Cuma, satu hal yang menarik dari tulisan Perwira Menengah TNI tersebut adalah makin tingginya minat masyarakat untuk datang – dan berwisata – ke istana yang oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono disebut dengan ”Istana untuk Rakyat”.