26 August 2008

Expedisi KOMPAS: 100 Taoen Anjer – Panaroekan

Di saat kemerdekaan negeri ini mencapai tahun ke-63, harian Kompas – sebagai surat kabar terbesar di Indonesia – mengadakan Ekspedisi 200 Tahun ANJER–PANAROEKAN, yang mengulas sejarah serta pertumbuhan perkotaan dan berbagai masalahnya, dan diharapkan dari penelusuran ekspedisi ini dapat dilihat masa depan pembangunan Jawa dan juga Indonesia.

Semua hasil liputan ekspedisi tersebut dimuat di Harian Kompas, secara berkesinambungan. Sebagai kilas balik siapa dan bagaimana dibangunnya jalan yang membelah pulau Jawa, dari ujung barat (Anyer) sampai ujung timur (Panarukan), berikut kisah singkatnya (yang diambil dari Kompas edisi cetak 20/08/2008):

Herman Willem Daendels, si kutu buku itu ternyata terinspirasi Cursus Publicus, jasa pengiriman pos dan informasi militer di zaman Romawi kuno.

Ketika Daendels kemudian menjadi Gubernur Jenderal Wilayah Hindia Timur, dan berkedudukan di Jawa pada kurun waktu 14 Januari 1808 hingga 16 Mei 1811, ia membuat dua kebijakan penting yang kelak menjadi titik tolak perkembangan infrastruktur di Jawa hingga saat ini.

Pertama, membangun kota modern Batavia (Jakarta), Buitenzorg (Bogor), Bandung, Semarang, dan Surabaya. Kedua, Jalan Raya Pos (De Grote Postweg) sepanjang lebih kurang 1.000 kilometer yang menghubungkan ujung barat dan ujung timur Pulau Jawa.

Anjer-Panaroekan adalah rute jalan yang kemudian mendorong tetapi juga merongrong pertumbuhan tata kota, dan kultur kota-kota yang dilaluinya. Sisi gelap lainnya, adalah sejarah penindasan yang bergelimang duka derita penduduk karena dipaksa bekerja keras dengan bekal minim sekali.

AddThis Feed Button