Tampilkan postingan dengan label Barcelona. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Barcelona. Tampilkan semua postingan

24 Mei 2011

Kostum Barcelona dari Sampah, tapi Bergaya Estetika Modern

BARCELONA akan bertanding dengan menggunakan kostum kandang dan tandang terbaru pada musim 2011-2012. Kostum tersebut terbuat dari sampah, tapi mengedepankan gaya estetika modern dan teknologi mutakhir. Selain itu, kostum juga tetap mempertahankan tradisi dan sejarah klub yang sudah sangat khas.

Kostum kandang tetap mengedepankan garis warna burgundy dan biru yang sudah sangat tenar di seluruh dunia dengan sebelas garis yang sangat ditonjolkan untuk pertama kali. Pada bagian dalam kerah bertuliskan moto “Tots unit fem força” (All together, we are strong atau Bersama, kita kuat), yang diambil dari lagu kebesaran klub Barcelona.

Untuk kostum tandang, Barcelona memilih warna hitam pekat dan memberikan kesan yang sangat kuat dalam setiap pertandingan tandang. Seragam hitam mengedepankan tulisan berwarna hitam dan abu-abu pada bagian bahu yang mengingatkan pada bendera Catalan, Senyera.

Sementara sejarah dan tradisi dari klub hadir dengan sangat kuat pada desain seragam. Semua kostum itu terbuat dari poliester daur ulang yang dibuat Nike. Teknologi ini untuk pertama kalinya dibuat untuk baju dan celana.

Setiap set kostum dibuat dari 13 botol plastik daur ulang. Proses pembuatan yang terbaru ini dapat mengurangi penggunaan energi sebanyak 30 persen dibandingkan dengan proses pembuatan poliester secara tradisional dan telah menghemat hampir 100 juta botol minum plastik untuk tidak dibuang pada pembuangan sampah.

Celana pada kostum kandang berwarna biru dan memiliki garis berwarna burgundy yang khas pada setiap sisinya, dipadu dengan kaus kaki berwarna biru dengan huruf “FCB” berwana kuning pada bagian betisnya. Sementara celana pada kostum tandang berwarna hitam dengan mengedepankan huruf “FCB” berwarna kuning juga.

Kostum yang ringan ini (13 persen lebih ringan dari versi sebelumnya) secara aktif mengatur suhu tubuh pemain di lapangan untuk menjaga mereka tetap kering dan sejuk setiap saat, melalui teknologi Dry-Fit Nike. Teknologi ini dapat menarik keringat dari tubuh pemain melalui materi yang menguapkan keringat tersebut.

Pengaturan suhu badan juga dibantu oleh zona ventilasi, yang terdiri dari ratusan lubang yang dipotong dengan laser dari bagian ketiak hingga pinggang, yang memampukan sirkulasi udara sehingga membantu pemain tetap kering, sejuk, dan nyaman.

Untuk pertama kalinya, lambang klub pada kaus dibuat dengan kemampuan menyalurkan panas. Ini membuat kostum semakin ringan dan area tersebut berfungsi sebagai ventilasi juga. Pada musim ini, kaus Barca memiliki aerodinamis terbaru yang pas, lebih ramping dan lebih atletis, memampukan peregangan hingga 17 persen dari kaus yang digunakan Barcelona dua tahun yang lalu.

Sementara bagian kerah yang menyatu memberikan tampilan satu jahitan yang dapat mengurangi iritasi akibat gesekan. Melengkapi kostum bertanding Barcelona terbaru ini, Nike juga meluncurkan rangkaian baju latihan (training) dan lifestyle untuk pemain dan penggemar mereka yang dapat digunakan di lapangan maupun di luar lapangan.

Menonjolkan simbol-simbol dan warisan yang telah mempersatukan klub dan fans serta pakaian lifestyle yang terbaru termasuk seragam rugby dan jaket N98 yang memiliki bordiran “Barca” berwarna emas.

Sebuah kaus juga menggunakan emblem Barcelona sebagai detak jantung yang dibuat dari tali biru dan merah untuk mengekspresikan dukungan terhadap klub. Kostum dan rangkaiannya bisa didapatkan di seluruh gerai Nike pada 24 Mei 2011.
***
sumber: http://bola.kompas.com

28 Mei 2009

Di Tangan Pep Guardiola, Barcelona Mampu menjadi Raja Eropa

Akhirnya gelaran liga sepakbola Eropa 2009 – Champions League – tuntas juga, dengan Barcelona sebagai jawara dengan mengkandaskan juara bertahan Manchester United. Skor yang ditorehkan dalam 90 menit pertandingan juga lumayan meyakinkan, 2-0. Samuel Eto’o dan Lionel Messi lagi-lagi menjadi ‘pahlawan’ bagi klub Catalan, yang baru saja meraih gelar La Liga musim 2008/2009.

Seperti yang aku tulis di blog ini tempo hari – beberapa saat setelah Barcelona menghempaskan Chelsea di leg-2 semifinal – untuk final kali inipun Barcelona pasti akan tetap menampilkan permainan sepakbola modern, menyerang dengan umpan cepat dari kaki ke kaki. Karena dengan kemampuan skill individu pemain yang merata, dari pemain belakang, gelandang sampai penyerang, Barca akan mudah melakukan strategi skema pemain yang diturunkan.

Dan dini hari tadi, terbukti. Meski 10 menit awal Manchester United – dengan menonjolkan kemampuan individu Cristiano Ronaldo di depan – sepertinya akan dengan mudah memenangkan pertandingan, karena mampu menekan Barcelona, baik melalui serangan cepat maupun spekulasi tendangan keras dari luar area petak penalti. 

Toh gol cepat Eto’o di menit 10 membalikkan semua skenario Sir Alex Fergusson (pelatih Manchester United), yang semua ingin “menghabisi” Barca di menit-menit awal. Mudah ditebak, pertandingan selanjutnya dengan leluasa di kuasai Barcelona, karena pemain-pemain tim setan merah – yang bertekad akan memecahkan mitos menjadi juara di dua tahun yang berurutan – mulai kehilangan konsentrasi. Bahkan, di 30 menit akhir babak kedua, rasa frustasi pemain sekaliber Ronaldo, Scholes dan juga Vidic dituangkan dalam permainan keras, yang membuahkan kartu kuning bagi meraka.

Menurutku, selain permainan tim Barcelona yang cukup konstan sejak putaran awal Liga Champions, kemampuan pelatih Joseph “Pep” Guardiola dalam meramu pemain muda penuh talenta (seperti Messi dan Pique) dengan yang penuh pengalaman (seperti Puyol dan Henry) adalah kunci kesuksesan Barcelona. Buktinya, di level lokal (Spanyol) pun Barcelona mampu menyandingkan 2 gelar sekaligus, La Liga dan Piala Raja, sehingga tahun ini Treble Winner ada di genggaman tim Azulgrana.

Yup, lagi-lagi Pep Guardiola – yang masih minim pengalaman melatih tim la liga (dan usianya pun masih 38 tahun) – mampu menjungkir-balikkan ramalan pengamat sepakbola. Di tengah kepungan 3 tim liga primer Inggris di semifinal, toh Guardiola yang hanya berpengalaman sebagai pelatih tim B Barcelona, mampu berkelit dan menjadi campeone. Sekaligus, ini prestasi membanggakan Pep Guardiola di Barcelona, yang mampu menjuarai Liga Champions saat menjadi pemain (1992) dan pelatih (2009). Luar biasa !


AddThis Feed Button

07 Mei 2009

Sudah Selayaknya Barcelona Masuk Final

Yup, semifinal ke-2 Liga Champions Eropa antara Chelsea melawan Barcelona telah usai digelar dini hari tadi (Kamis, 7 Mei 2009). Hasil akhir, Chelsea 1 - Barcelona 1. Artinya, Barcelona lolos ke final, karena menang agregat 1-1 (pada leg 1 di Stadion Camp Nou, Barcelona ditahan 0-0 oleh Chelsea).
Dan aku pun sepakat kalau ada pengamat sepakbola yang mengatakan pemenang pertandingan Chelsea melawan Barcelona – semifinal leg 2 liga Champion Eropa – adalah “sepakbola” itu sendiri. Dan sepakbola itu dipresentasikan dengan sempurna oleh Barcelona, klub pemuncak La Liga Spanyol sekaligus kandidat kuat juara Liga Champions 2009, selain Manchester United.

Tak pelak, startegi Chelsea untuk tetap menerapkan pola bertahan total – dengan sesekali memanfaatkan serangan balik secara sporadis – makin mengukuhkan bahwa tim besutan Guus Hiddink ini hanya mencari kemenangan semata, tanpa “menghormati” bagaimana sebenarnya bermain bola yang benar dan bisa dinikmati penonton. Tentu sebuah ironi, kalau tim tuan rumah dalam penguasaan bola hanya 39% kalah jauh dari Barcelona (yang sebenarnya adalah tamu) yang mencapai 61% dalam 90 menit pertandingan.

Menurut pandanganku, Barcelona adalah tim “sempurna” dalam memainkan sepakbola modern. Penguasaan teknik individu pemain cukup tinggi, memainkan bola cepat dari kaki ke kaki dengan akurat, kemampuan fisik yang terjaga dalam pertandingan spartan 90 menit, dan punya konsistensi untuk menyerang dan bertahan sama baiknya. Bukti lain, meski sejak menit ke-66 bermain dengan 10 pemain – karena Erick Abidal terkena kartu merah – Barcelona tetap memperagakan sepakbola menyerang.

Kalau Barcelona baru bisa menciptakan gol di menit 93 (injury time) melalui skema serangan yang terorganisir, yang diakhiri tendangan menghunjam Andres Iniesta ke gawang Chelsea, itu hanyalah tinggal menunggu waktu. Strategi Hiddink menjadi begitu kuno dihadapan anak-anak Catalan asuhan Josep Guardiola. Seperti tak terpengaruh oleh absennya sang kapten Carlos Puyol dan striker flamboyan Thierry Henry, pelatih muda asli Spanyol ini tetap menurunkan trisula Iniesta, Messi dan Eto’o. Hasilnya luar biasa, serangan bergelombang dari sayap kiri dan kanan terus menekan pertahanan Chelsea, yang memasang 7 sampai 8 pemain di depan gawang Petr Cech.

Kini, final ideal yang ditunggu-tunggu penikmat bola dunia – antara Barcelona vs Manchester United – yang akan digelar di Stadion Olimpico Roma tanggal 27 Mei 2009, menjadi kenyataan. Bukan hanya pertarungan strategi antara Alex Ferguson melawan Josep Guardiola, tetapi lebih dari itu final ini akan menjadi ajang pembuktian siapa sebenarnya pemain terbaik dunia saat ini, apakah Cristiano Ronaldo (Mancherter United) atau Lionel Messi (Barcelona). Sangat menarik untuk kita tunggu!

12 Agustus 2008

Menikmati Aksi Ronaldinho dan Messi di TVRI, langsung dari Olimpiade Beijing 2008

Sungguh tak pernah terpikir, kalau Olimpiade Beijing 2008 – yang katanya termegah dari segi penyelenggaraan dan venue yang dibangun – ternyata disiarkan langsung oleh televisi pemerintah, TVRI. Tidak tanggung-tanggung, dalam sehari sekitar 4 sampai 5 jam siaran, kita disuguhi pertandingan olahraga antar negara sedunia, tanpa harus banyak dijejali iklan di setiap jedahnya.

Yang membuatku heran, kenapa event akbar semacam olimpiade ini tidak “dilirik” sama sekali oleh televisi swasta negeri ini, yang kalau dihitung sudah berjumlah belasan? Karena, kalau dilihat dari segi geografis, perbedaan waktu Indonesia dan China tidaklah terlalu senjang, sehingga penonton televisi tidak harus “menyesuaikan” waktu jam tidurnya karena ada tayangan langsung. Atau, perhelatan akbar ini sudah tidak menarik bagi para pemasang sponsor, sehingga sulit untuk dijual?

Memang, ada yang agak aneh. Kenapa TVRI bisa membeli hak siar yang diperkirakan berharga milyaran, padahal televisi (swasta) yang biasanya jor-joran mengeluarkan uang justeru mengambil sikap yang sebaliknya, tidak berminat pada tayangan multi-olahraga dunia ini. Sebagai perbandingan, Aora TV – televisi berbayar terbaru di Indonesia – mengeluarkan uang sebesar US$ 1 juta sebagai royalti membeli hak siar Olimpiade Beijing 2008.

Terlepas TVRI mendapat “discount” besar-besaran dari Asian-Pacific Broadcasting Union (ABU) – sebagai pemegang hak siar untuk kawasan Asia – yang pasti televisi plat merah ini patut diacungi jempol. Nyatanya, sebagai penggemar olahraga, aku masih bisa menikmati permainan memikat dari Ronaldinho (pesepakbola Brasil yang membela negaranya di olimpiade tahun ini) dan juga liukan memikat dari Lionel Messi (pesepakbola penuh talenta titisan Maradona dari Argentina), dalam dua hari terakhir ini.

Jujur saja, setiap nonton tayangan olimpiade – terutama di TVRI – ingatanku selalu berbalik ke tahun-tahun saat TVRI masih jaya. Setidaknya, saat Olimpiade Seoul tahun 1988 berlangsung, aku tiap malam harus rela duduk bersama-sama masyarakat Mataram (Nusa Tenggara Barat) di depan televisi umum, yang dipajang di depan Kantor Wilayah Departemen Penerangan propinsi NTB.

Pun saat Olimpiade Barcelona tahun 1992 berlangsung, aku justeru sedang mendapat tugas dari kampus di kota Denpasar (Bali). Walhasil, setiap malam – setelah menyelesaikan tugas-tugas harian – hingga dini hari bersama beberapa teman setia nongkrong di depan televisi 14 inch di sebuah hotel kelas melati, hanya untuk menikmati siaran langsung olimpiade dari TVRI.

Kini, saat nonton tayangan langsung Olimpiade Beijing 2008, di salah satu sudut ibukota negara, aku sudah ditemani 2 orang putra-putriku yang dengan pikiran anak-anaknya selalu minta dijelaskan segala sesuatu yang berhubungan dengan olahraga dan olimpiade. Ya, bagiku Olimpiade dan TVRI, seperti mata rantai yang sulit dipisahkan. Mudah-mudahan untuk tahun-tahun mendatang TVRI masih bisa menayangkan event akbar seperti ini. Sebab, inilah (salah satu) yang bisa dibanggakan dari setasiun televisi tertua di tanah air kita.

AddThis Feed Button

03 Juni 2008

Thierry Henry tetap di Barcelona

Juara Liga Primier Inggris 2007/2008 Manchester United, yang sampai pertengahan Mei kemarin sudah optimis akan mendapatkan striker Barcelona – dan sempat bertahun-tahun jadi ikon di Arsenal – Thierry Henry, akhirnya harus gigit jari. Adalah Josep Guardiola, pelatih baru Barcelona pengganti Frank Rijkard, yang menggagalkan upaya transfer mengejutkan Manchester United tersebut.

Henry hampir saja mengenakan kaos United setelah menyepakati kontrak yang diajukan Setan Merah. United akan memboyong Henry kembali ke Inggris dengan nilai transfer 10 juta poundsterling atau sekitar Rp. 183 miliar.

Tapi, pelatih Barcelona Josep Guardiola langsung menghentikan proses transfer tersebut. Seperti dikutip Sunday Mirror dari sumber internal Barcelona, Guardiola meminta Henry agar tidak pergi. Henry akan menjadi pemain utama Barcelona musin depan.

Asal tahu saja, Henry hanya menjadi pemain cadangan dang agar bersinar di klub yang membelinya seharga 16 juta poundsterling. Makanya, Henry pernah bilang akan kembali ke Inggris jika klub asalnya, Arsenal, mau menerimanya. Waaah…, ternyata gertakan Henry manjur juga ya ?