12 August 2008

Menikmati Aksi Ronaldinho dan Messi di TVRI, langsung dari Olimpiade Beijing 2008

Sungguh tak pernah terpikir, kalau Olimpiade Beijing 2008 – yang katanya termegah dari segi penyelenggaraan dan venue yang dibangun – ternyata disiarkan langsung oleh televisi pemerintah, TVRI. Tidak tanggung-tanggung, dalam sehari sekitar 4 sampai 5 jam siaran, kita disuguhi pertandingan olahraga antar negara sedunia, tanpa harus banyak dijejali iklan di setiap jedahnya.

Yang membuatku heran, kenapa event akbar semacam olimpiade ini tidak “dilirik” sama sekali oleh televisi swasta negeri ini, yang kalau dihitung sudah berjumlah belasan? Karena, kalau dilihat dari segi geografis, perbedaan waktu Indonesia dan China tidaklah terlalu senjang, sehingga penonton televisi tidak harus “menyesuaikan” waktu jam tidurnya karena ada tayangan langsung. Atau, perhelatan akbar ini sudah tidak menarik bagi para pemasang sponsor, sehingga sulit untuk dijual?

Memang, ada yang agak aneh. Kenapa TVRI bisa membeli hak siar yang diperkirakan berharga milyaran, padahal televisi (swasta) yang biasanya jor-joran mengeluarkan uang justeru mengambil sikap yang sebaliknya, tidak berminat pada tayangan multi-olahraga dunia ini. Sebagai perbandingan, Aora TV – televisi berbayar terbaru di Indonesia – mengeluarkan uang sebesar US$ 1 juta sebagai royalti membeli hak siar Olimpiade Beijing 2008.

Terlepas TVRI mendapat “discount” besar-besaran dari Asian-Pacific Broadcasting Union (ABU) – sebagai pemegang hak siar untuk kawasan Asia – yang pasti televisi plat merah ini patut diacungi jempol. Nyatanya, sebagai penggemar olahraga, aku masih bisa menikmati permainan memikat dari Ronaldinho (pesepakbola Brasil yang membela negaranya di olimpiade tahun ini) dan juga liukan memikat dari Lionel Messi (pesepakbola penuh talenta titisan Maradona dari Argentina), dalam dua hari terakhir ini.

Jujur saja, setiap nonton tayangan olimpiade – terutama di TVRI – ingatanku selalu berbalik ke tahun-tahun saat TVRI masih jaya. Setidaknya, saat Olimpiade Seoul tahun 1988 berlangsung, aku tiap malam harus rela duduk bersama-sama masyarakat Mataram (Nusa Tenggara Barat) di depan televisi umum, yang dipajang di depan Kantor Wilayah Departemen Penerangan propinsi NTB.

Pun saat Olimpiade Barcelona tahun 1992 berlangsung, aku justeru sedang mendapat tugas dari kampus di kota Denpasar (Bali). Walhasil, setiap malam – setelah menyelesaikan tugas-tugas harian – hingga dini hari bersama beberapa teman setia nongkrong di depan televisi 14 inch di sebuah hotel kelas melati, hanya untuk menikmati siaran langsung olimpiade dari TVRI.

Kini, saat nonton tayangan langsung Olimpiade Beijing 2008, di salah satu sudut ibukota negara, aku sudah ditemani 2 orang putra-putriku yang dengan pikiran anak-anaknya selalu minta dijelaskan segala sesuatu yang berhubungan dengan olahraga dan olimpiade. Ya, bagiku Olimpiade dan TVRI, seperti mata rantai yang sulit dipisahkan. Mudah-mudahan untuk tahun-tahun mendatang TVRI masih bisa menayangkan event akbar seperti ini. Sebab, inilah (salah satu) yang bisa dibanggakan dari setasiun televisi tertua di tanah air kita.

AddThis Feed Button