Tampilkan postingan dengan label Mustika Ratu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mustika Ratu. Tampilkan semua postingan

13 Desember 2011

DR. Mooryati Soedibyo, the Professor Herb


It may be that not many women in this country who have the spirit and stamina like you've stepped on this year to 80 years of age. Yes, DR. Hj. BRA. Mooryati Soedibyo, SS. M. Hum - former President Director of PT. Mustika Ratu Tbk. engaged in traditional industries Drugs & Cosmetics - is the fee that is exemplary figure. At the age of the woman as she was spending more time at home with his grandson granddaughter, Mrs. Moor, so this woman called, precisely still doing business in the fields of industry, and has just finished serving in government as vice chairman of the MPR.

As written daily KOMPAS some time ago (in the Name & Events section), Mrs Moor won achievement (again) as "Professor Herb" (bahasa: Empu Jamu). This, after 33 years of doing business the traditional herbal medicine and cosmetics, DR. BRA. Mooryati Soedibyo (80 years) received recognition from Indonesia World Record Museum (MURI) as the "Professor Herb". At that time, the State Minister of Women Empowerment Meutia Hatta Swasono, MURI awards are handed to the founder of PT. Mustika Ratu Tbk.

01 Maret 2010

Taman Sari Royal Heritage Spa

The name Taman Sari refers to the water palaces of ancient Javanese kratons.

It was the personal mission of Hj. BRA. Mooryati Soedibyo, the grand daughter of Surakarta’s Susuhunan Pakubuwono X, to “share this precious inheritance with the rest of the world”, and thus she created Taman Sari Royal Heritage Spa, which currently has two branches, in Jakarta and Sheraton Mustika.

At the branch in Jl. Wahid Hasyim in Central Jakarta located approximately a hundred meters behind the united building, one enters a large lobby and overlooking staircase and gallery, which like the rest of the spa has a strong Javanese flavor in design and decoration.

Inside this area which only 5 minutes from our business center is also the shop selling a large selection of home brand spa products that allows you to experience the slice of heaven. Each area is advertised by sign written in Javanese. The lobby leads past the reception to the beauty salon where you can get your facials, manicures, hand and foot massage etc.

Next you reach a small jamu bar which is attractive in an old fashioned kind of way. This looks out over the small, low-lit courtyard and bathing pool area with ist accompanying hot-and-cool style Jacuzzi pool (ie one pool is hot and one cool depending on your preference).

Upstairs are the nine standard massage room with natural rock-effect walls. Executive rooms also have a bathtub. Upstairs there is also a large hall catering for up to 100 people. In here there is tae-bo and aerobics, or meetings and presentations if you so wish.

The philosophy of the massage is East meets West and there are plenty of treatments and packages to choose from including the new post maternity treatment, foot spa, soft massage with air blanket, hand spa and aromatherapy bath.

According to Operatons Manager, “We want to provide not just a Javanese massage but the righ massage for each customer, for example with our new post-maternity package”. There is also a small, modern gym tucked in amongst the old-style paraphernalia.

For reservation please call at: Taman Sari Royal Heritage Spa, Jl. Wahid Hasyim 133, Jakarta – Indonesia; Tel. 62-21-3143385, Fax. 62-21-330100.





22 Mei 2009

From Behind The Walls of The Keraton

For generations, the Indonesian people have looked to the royal keraton (palace) as a source of both wisdom and practical knowledge. Despite the many changes brought about by development in recent years, the keraton still holds a tremendous attraction for most Indonesians.

From the keraton have come traditions in gamelan music, classical dance, puppetry, wood carving and the art of beauty and health care, particularly care involving the use of jamu and specially made traditional cosmetics.

The keraton also remains a repository of ancient philosophy and rules for living. Yet even centuries after its establishment, many of the mysteries of the keratin have yet to be fully revealed. It is no wonder, therefore, that the keratin is still an object of fascination for so many people.

Among the great secrets of the keraton are many involving health and beauty care, Dr. BRA. Mooryati Soedibyo, one of the royal princess who possessed these secrets, has passed them on to millions of consumers through cosmetic and traditional herb products.

The aristocratic traditions of the keraton were a part of the princess daily life from the very beginning. She was patient in her study of blending of ingredients to make jamu and other preparations for health and beauty care, as well as giving careful attention to other traditional arts.

From her grandmother, Dr. BRA. Mooryati Soedibyo learned how certain plants can impart their restorative powers to those who use them in the proper fashion. This was typical of the kind of traditional wisdom that had long been known only to members of the keraton aristocracy.

** Sumber foto: Company Profile PT. Mustika Ratu, Tbk.

AddThis Feed Button

26 Oktober 2008

Asyiknya Menyimak Blog Bu GM

Memang, kebiasaan menulis – yang dituangkan dalam bentuk blog – saat ini bukan lagi monopoli mereka yang bergelut dalam dunia IT. Setidaknya, dalam 4 tahun terakhir, sudah sering aku dengar di negeri ini ada blogger (aktif) yang belum genap berusia 10 tahun, atau juga ada beberapa menteri yang juga suka nge-blog. Artinya, nulis di blog memang boleh dilakukan oleh siapa saja, kapan saja, dan dimana saja (hehehe... kayak tagline sebuah iklan ya?).

Nah, kalau akhirnya aku menemukan sebuah blog – aku katakan “nemu” karena memang secara tidak sengaja muncul di mesin pencari Google, pas aku lagi cari data lain – yang ditulis oleh Ibu Fransisca Sestri, ya jelas membuat aku agak terkejut juga. Sebab, Bu Sestri ini merupakan sosok yang sangat familiar bagiku (dan seluruh karyawan di kantorku sih) dalam rentang waktu 10 tahun terakhir. Setidaknya, setelah menduduki berbagai posisi vital di kantor, saat ini Ibu yang selalu tampil enerjik ini menduduki posisi General Manager Finance di PT. Mustika Ratu, Tbk.

Memang sih, kalau hanya menulis sebuah blog, tentu tidaklah sulit bagi Bu Sestri. Karena sebelumnya, beliau juga telah menulis 2 buah buku – dan telah beredar di pasaran – yaitu “
Kanti Redjeki” dan “Tasika”. Cuma, melihat frekuensi kemunculan tulisan di blog-nya yang hampir rutin tiap hari, rasanya diperlukan waktu dan stamina yang diatas rata-rata, mengingat usia beliau yang tentunya tidak bisa dikatakan muda lagi. Apalagi kalau melihat pola kerja keseharian Bu Sestri yang terkenal ulet dan tangguh, dan pulang kerja pun kadang paling akhir (karena aku juga sering diingatkan untuk matikan lampu kalo mau pulang, hehehe…).

Belum lagi “pekerjaan tambahan” Bu Sestri untuk ngurusi organisasi yang masih ada hubungannya dengan kantor, seperti GP-Jamu, Perkosmi, YPI, dan yang lainnya ( weeeeei… banyak banget ya?). Setidaknya, beberapa tahun silam aku pernah merasakan “didikan” beliau untuk mengurus sebuah kegiatan – event besar sih, karena scope-nya Asia – dengan tegas dan benar (hehehe… sampai-sampai rela untuk dimarahi Ibu Menteri segala ya, Bu?)

Yang asyik tuh, isi blog Bu Sestri ini sangat beragam, dan selalu up to date. Bukan sekedar tulisan catatan harian semata, tetapi juga mengikuti berita yang sedang hangat-hangatnya. Aku sendiri sampai heran, misalnya hari ini negara Amerika dilanda tornado besar, besoknya di blog Bu Sestri sudah muncul tulisannya (tentu dilihat dari kacamata penulisnya), saat ada kejadian pembagian zakat yang berakibat maut, eeeh.. besoknya sudah diulas Bu Sestri di blog. Belum lagi tulisan tentang “pemikiran” para tokoh yang ditemui Bu Sestri (baik langsung maupun saat seminar) pasti akan muncul di blog, selain tulisan human interest yang berisi perjalanan dinas ataupun kunjungan ke daerah-daerah tentunya.

Yup.., tulisan ini memang hanya sebagai bentuk rasa salut, kagum dan apresiasiku terhadap penulis blog yang konsisten pada dunia tulis-menulis, tanpa perlu harus “menonjolkan” apa latar belakang dan status penulis blog tersebut. Kebetulan, untuk penulis blog yang satu ini, aku mengenal dengan baik. Begitu kan Bu Sestri? Eh hiya, sebelum lupa, alamat blog-nya Bu Sestri : DISINI !

AddThis Feed Button

17 Mei 2008

DR. Mooryati Soedibyo, Sang Empu Jamu

Bisa jadi tak banyak perempuan di negeri ini yang mempunyai semangat dan stamina seperti Ibu yang tahun ini sudah menginjak usia ke-80 tahun. Ya, DR. Hj. BRA. Mooryati Soedibyo, SS. M.Hum – Presiden Direktur PT. Mustika Ratu, Tbk. yang bergerak di bidang industri Jamu & Kosmetika tradisional – adalah sosok yang terbilang patut diteladani. Di usia yang pada perempuan se usianya lebih banyak menghabiskan waktu di rumah bersama cucu cucunya, Ibu Moor, begitu perempuan ini biasa dipanggil, justeru masih berkiprah di bidang industri maupun pemerintahan sebagai wakil ketua MPR RI.

Seperti yang ditulis harian KOMPAS hari Selasa kemarin (pada rubrik Nama & Peristiwa), Bu Moor berhasil meraih prestasi (lagi) sebagai Empu Jamu. Ini, setelah 33 tahun berbisnis jamu dan kosmetika tradisional, DR. BRA. Mooryati Soedibyo (80 tahun) mendapat pengakuan dari Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) sebagai Empu Jamu. Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan Meutia Hatta Swasono, menyerahkan pengharaan MURI tersebut kepada pendiri PT. Mustika Ratu, Tbk.

Mooryati, anggota DPD yang membidangi agama, kesehatan, pendidikan, dan perempuan ini “kenyang” denganpenghargaan. Sebut misalnya Upakarti, Kalpataru, dan Satyalencana Pembangunan. Namun, penghargaan MURI sebagai Empu Jamu sangat membanggakan. “Jamu dan kosmetika tradisional adalah kekayaan alam dan warisan budaya. Ini tak saja berperan menjaga kesehatan generasi bangsa, memberdayakan ribuan perempuan, tetapi juga asset nasional. Sejumlah produk jamu dan kosmetika tradisional kini dikenal dunia,” ujar Ibu Moor.

Merintis usaha sejak tahun 1975, sampai sekarang Ibu Moor sudah memproduksi sekitar 800 macam jamu dan kosmetika tradisional. Sekitar 600 diantaranya sudah dipatenkan. “Masih banyak lagi produk (jamu dan kosmetika tradisional) yang terus diteliti dan belum dipasarkan,” tambah perempuan yang meraih gelar Doktor dari Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia ini.