23 August 2009

Hadits “Tidurnya Orang Yang Berpuasa Adalah Ibadah” Adalah Lemah

Sungguh menarik, mengikuti status (maupun komentar) yang banyak tertulis di jejaring sosial Facebook di awal-bulan Ramadhan ini. Terbanyak –entah bernada guyonan atau serius– adalah sering munculnya jargon “tidur saat puasa adalah ibadah”. Entah hanya ikut-ikutan atau memang pernah mempelajari hadits-nya, sebenarnya ungkapan itu masih menimbulkan perdebatan yang panjang, terutama masalah kesahihan hadits itu sendiri.

Itulah sebabnya, ketika secara kebetulan membuka website www.islamQA.com (Islam Question & Answer), berisi tanya jawab berbagai masalah ke-Islam-an – dimuat dalam 9 bahasa : Inggris, Arab, Perancis, Spanyol, Jepang, China dan juga Turki – yang diasuh Sheikh Muhamad Shalih Al Munajid (Pemimpin Umum Islam.ws), saya tergelitik untuk mengutip satu pertanyaan (dan jawaban yang ada) di web tersebut.

Setidaknya, ada referensi dan pencerahan –bagi siapapun yang membacanya—tetang topik yang sedang hangat-hangatnya tersebut. Berikut petikan lengkapnya:

Pertanyaan:
Saya mendengar salah seorang khatib menyampaikan salah satu hadits Nabi sallallahu alaihi wa sallam, yaitu: Tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah . Apakah hadits ini shahih?

Jawaban:
Alhamdulillah.
Hadits ini tidak shahih. Tidak ada ketetapan dari Nabi sallallahu alaihi wasallam. Diriwayatkan oleh Baihaqi di kitab Syu abul Iman , 3/1437, dari Abdullah bin Abu Aufa radhiallahu anhu sesungguhnya Nabi sallallahu alaihi wa sallam bersabda:
“Tidurnya orang puasa adalah ibadah, diamnya adalah tasbih, doanya terkabulkan dan amalannya dilipat gandakan” .

Sanadnya dilemahkan oleh Baihaqi, dia berkata:
“Ma'ruf bin Hasan (salah seorang perawi hadits ini) lemah, dan Sulaiman bin Amr An-Nakha’i lebih lemah dari beliau”.

Al-Iraqi berkomentar dalam Takhrij Ihya Ulumuddin, 1/310:
“Sulaiman An-Nakha’i adalah salah seorang pendusta”.

Dilemahkan juga Al-Manawi di kitab Faidhul Qadir, 9293. Al-Albany mencantumkannya dalam kitab Silsilah Al-Ahadits Ad-Dhaifah, no. 4696, dia berkata:
“(Hadits ini) lemah”.

Seharusnya umat Islam secara umum (lebih ditekankan lagi para khatib dan penceramah) agar meneliti sebelum menyandarkan hadits kepada Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Tidak dibolehkan menyandarkan kepada beliau apa yang tidak beliau katakan. Karena nabi besar Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya berbohong kepadaku tidak seperti berbohong kepada orang lain. Barangsiapa yang berbohong kepadaku dengan sengaja, maka disediakan baginya tempat di neraka”.
(HR. Bukhari, no. 1391, dan diriwayatkan oleh Muslim dalam muqadimah shahihnya, no. 4)

***
credit foto: detik.com



AddThis Feed Button